Selasa, 31 Maret 2009

A History of Fencing [OLAHRAGA ANGGAR]







The history of fencing parallels the evolution of civilization, back from the days of ancient Egypt and Rome, to the barbaric Dark Ages, to the fast and elegant Rennassiance, up to the modern, increasingly popular fencing of today. Fencing has always been regarded as more than a sport; it is an art form, an ancient symbol of power and glory, and a deeply personal, individual form of expression. Fencing is and always has been an intrinsic part of life, from the dueling and battle of yore to the widely captivating movies and facets of popular culture such as Zorro and The Princess Bride.

The earliest evidence of fencing as a sport comes from a carving in Egypt, dating back to about 1200 B.C., which shows a sport fencing bout with masks, protective weapon tips, and judges.

The Greek and Roman civilizations favored short swords and light spears, and taught their warriors in schools called ludi. The collapse of the Roman civilization at around 476 A.D., however, brought the crude, heavy weapons of the barbarian invaders and signalled a regression of fencing through the dark ages. It was not until the beginnings of the Renassiance in the 14th centurty that light, fast weapons such as the rapier came back into use, primarily because gunpowder rendered heavy armor obsolete.

The fifteenth century brought the beginnings of modern fencing. Spain had the first true fencers, and the first two fencing manuals were published there in 1471 and 1474, but swordplay guilds such as the Marxbruder from Germany began springing up all across Europe. About 1500 the Italians began extensive use of the Rapier. The right hand held te weapon while the left hand held a dagger (often called a Main Gauche) or buckler (a small shield), used for parrying blows. Italian fencing masters, such as Agrippa, who invented the four fencing positions (prime, seconde, tierce, and quarte), and masters Grassi and Vigiani, who invented the lunge, became very prolific in this time. The 16th century also brought a large increase in the popularity of dueling. More noblemen at during this period were killed in dueling than in war.

KESENDIRIAN

deras dan bising yang aku dengar saat hujan turun,bulan dan bintang bersembunyi tak menampakkan keindahannya dibalik awan hitam yang setiap ada hujannya,seakan mengerti tentang jalannya kehidupanku saat itu,semakin lama udara disekitar tubuh semakin dingin membuat badabku menjadi kedinginan dan detak jantungku semakin terasa cepat berdetak keseluruh tubuhku,seakan tahu apa yang sebenarnya aku harus lakukan saat itu,namun keindahan yang sebenarnya adalah saat hujan telah berhenti berjatuhan,bulan dan bintang pun mulai menampakkan keindahannya,tetesan air hujan berbunyi begitu heningnya,dan nyanyian kumbang mulai terdengar bersama indah cayahanya yang bersinar indah dimataku,seperti mengerti apa yang saat itu aku butuhkan untuk menemaniku dalam kesendirian,kini semuanya telah terungkap dan tak lagi jadi misteri dalam hidupku,terimakasiku untuk semua yang pernah mengenalku andaikan bukan karna kalian aku takkan pernah bisa untuk memilih jalan hidup yang aku inginkan.....""


Kesendirian Memang Untukku

Sepiku tak pernah berujung walau kutelah mencoba
Mencoba tuk lari dari rasa kesepianku sendiri
Mungkin aku terlalu senang dengan kesendirianku
Atau mungkin kuterlalu jauh dari rasa bahagian diriku sendiri
Atau aku terlalu bodoh untuk merasakan kebahagian yang kuinginkan
Begitu banyak orang yang kukenal tapi tak ada yang aku rasakan dari mereka
Rasa yang aku rasakan saat bersama mereka tak ada yang abadi dihatiku
Lelahnya kurasa hari ini walau kucoba buat menyambung hidup ini
Ingin kurasakan ketentraman hidup ini untuk menghapus kesepianku
Penat pikiran tuk mencari arti hidupku yang haus dengan seteguk ketenangan
Sisi ruang hati ini hampa terasa tiada arti yang dikuasai nafsu akan kebatilan
Luapan emosi yang membakar hati tapi jiwaku tak bisa padamkan api kesepian
Rindunya hatiku akan kebahagian yang selama ini aku inginkan dari mereka
Kemana aku harus mencari semua orang yang aku inginkan disampingku
Teman, sahabat, kekasih hati dimanakah aku harus menemukan mereka
Terkadang aku berpikir diriku terlalu menyendiri dalam segala hal
Hingga tak ada satu pun yang ingin menjadi teman dan bahkan sahabatku
Diriku selalu merasakan kesepian hingga mata ini meneteska air yang jatuh ditanganku
Setiap kumerenung atas kesendirian yang aku rasakan saat aku butuh mereka
Entah rasa apa yang aku rasakan dihati ini tapi yang pasti itu akan terasa pahit dihati
Kenapa coba semua ini harus terjadi pada diriku yang sudah sepi akan kebahagian
Lalu jiwaku diterpa akan kerasnya hantaman ombak kesendirian hidupku
Memang benarkah ini takdir yang harus aku tempuh disepanjang perjalanan hidupku
Tanpa teman yang selalu menemani, tanpa sahabat yang selalu menjadi luapan hatiku
Atau bahkan tanpa kekasih yang bisa menjadi teman dan bisa jadi sahabat
Apakah aku memang tak pantas untuk berteman atau tak pantas untuk jadi sahabat
Pantaskah aku tuk memiliki seseorang atau pantaskah aku tuk dimiliki seseorang
Kesendirian memang untukku karna hanya kesepian yang bisa mengerti hidupku
Apa yang harus aku perbuat lagi untuk bersembunyi dari apa yang harus aku tempuh
Aku hanya bisa menangisi kesendirianku agar hatiku bisa tenang walau tuk sesaat
Apakah ini garis kehidupan yang ditulis Oleh_Nya untuk kehidupanku
Jika memang benar akan garis kehidupanku seperti ini
Aku hanya bisa ikhlas, sabar, dan bertahan
Hanya itu yang aku minta darimu Tuhan

♥nisa♥

Sabtu, 28 Maret 2009

Pancasila Versi Bahasa Makassar

Pancasila Versi Bahasa Makassar
LIMA PASSALA (Bicara Mangkasara)

1(Se’re). Annyombaki Rikaraeng Mase’re
2(Rua). Accera Sitongka-tongka Rilalang Pangadakkang

3(Tallu). Abbulo Sibatang Ri Pa’rasanganta
4(Appa’). Na Iyya Rakyaka Ammile Wakkele Poro Langatoroki Ri Sikamma Rupa Taua
5(Lima). Adelekki Mange Ri Sikamma Tuma’buttaya
Kira-kira itulah Pancasila kalo diartikan kedalam Bahasa Makassar. Mohon maaf sebelumnya kalo ada yang salah dengan tulisan ini bukan bermaksud untuk mendiskreditkan Pancasila cuman agak penasaran saja gimana yah kalo Pancasila diartikan kedalam Bahasa Daerah.
Terbukti menarik perhatian banyak rekan2 karena lewat Mailing List di Yahoo, banyak sekali rekan2 yang memasukkan dalam versi bahasa daerah mereka.
Jadi intinya walaupun berbeda-beda tapi tetap satu jua yaitu Pancasila.

Mengenal watak orang Bugis Makassar

Suku Bugis Makassar dikenal penaik darah, suka mengamuk, membunuh dan
mau mati untuk sesuatu
perkara, meski hanya masalah sepele saja. Apa sebab sehingga demikian?
Ada apa dengan jiwa
karakter suku bangsa ini?

MAKAN mii*

“Makan Mi’..!”

Membaca judul di atas orang tentu akan berpikir kalau itu bermakna mengajak orang untuk makan mie. Tapi coba ucapkan kalimat itu pada orang Sul-sel ato minimal orang yang tau logat lokal sini, ditanggung maknanya akan beda. Penggunaan partikel MI di belakang kata “makan” bagi orang Sul-Sel bermakna mempersilakan atau secara kasar menyuruh, jadi makna kalimat “makan mi” bagi orang Sul-Sel kurang lebih sama dengan “silakan makan”.
Logat dalam bahasa Indonesia orang Sul-Sel memang unik, penggunaan beberapa partikel di belakang kata-kata utama sangat memberi warna bagi bahasa itu sendiri. Kadang-kadang partikel itu sendiri agak sulit untuk ditentukan definisi khususnya, utamanya tentang penempatan partikel tersebut. Ambil contoh partikel MI di atas, dalam kalimat “makan mi”, partikel MI bermakna mempersilakan, tapi dalam kalimat lain, misalnya ” besar mi”, partikel mi berubah fungsi sebagai penegasan kalau orang/benda yang dimaksud telah besar (dewasa). Dalam kalimat lain, misalnya “jadi satumi” partikel MI kembali berfungsi sebagai penegasan jika benda/orang telah menjadi satu, beda dengan kalimat lain seperti “ambil mi” dimana MI berfungsi kembali untuk mempersilakan orang mengambil barang/benda. Cukup membingungkan, bukan?
Padahal itu baru satu partikel, masih banyak partikel lain yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia versi Sul-Sel, partikel itu adalah: PI,JI,KI,MO. Beberapa contoh penggunaannya adalah sebagai berikut:
· Partikel PI = “satu pi” (bermakna menegaskan kalau subjeknya masih kurang satu lagi),contoh yang berbeda: “malam pi” yang artinya kurang lebih “nanti malam”, biasanya dipakai untuk kalimat seperti “malam pi ko datang” (kamu datangnya ntar malam aja).
· Partikel JI = khusus pada partikel ini, maknanya kurang lebih sama dengan hanya,contohnya pada kalimat “satuji saya bawa” yang artinya kurang lebih “saya cuman bawa satu” (perhatikan tatanan penempatan kalimat yang agak berantakan..hehehe). Tapi kadang-kadang partikel ini juga bermakna menegaskan, misalnya pada kalimat ” besarji rumahnya ” yang artinya sama dengan ” rumah besar kok..”, wah anda mungkin makin bingung..
Sebagai info, Propinsi Sulawesi Selatan terdiri atas banyak suku yang berbeda dan kemudian digolongkan dalam 3 kelompok suku terbesar (dulunya ada 4 sebelum suku Mandar sekarang mayoritasnya berada dalam wilayah Sulawesi Barat). Suku-suku itu adalah : Bugis,Makassar dan Toraja yang ketiganya memiliki perbedaan mencolok dari segi bahasa daerah. Ketiga suku tersebut kemudian terpisah lagi dalam beberapa sub-suku yang lebih kecil. Suku Bugis misalnya, ada Bugis Bone (yg lingkup bahasa dan wilayahnya paling luas), bugis Sinjai dan beberapa sub suku Bugis lainnya yang kadang-kadang juga punya bahasa yang agak berbeda. Sementara suku Makassar terbagi atas beberapa sub suku yang lebih kecil yang mempunyai logat dan bahasa yang juga berbeda, misalnya daerah Bulukumba dan Selayar yang secara fisik dianggap suku Makassar namun memiliki bahasa daerah yang lumayan berbeda dengan bahasa Makassarnya orang Gowa dan Takalar.
Sebagai info lagi, sebuah kabupaten kecil sebelah utara kota Makassar bernama Enrekang terbagi atas 3 daerah berbahasa berbeda, sebelah selatan bahasanya mirip bahasa Bugis karena memang berbatasan langsung dengan daerah suku Bugis, bagian tengah berbahasa daerah sendiri, sementara bagian utara berbahasa daerah yang mirip bahasa Toraja karena memang berbatasan langsung dengan daerah Toraja. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya orang-orang di Sul-Sel kalau bahasa Indonesia tidak ada.
Bahasa Indonesia yang kemudian dipakai sebagai bahasa pemersatu kemudian ter-influence oleh bahasa daerah itu sendiri. Beberapa istilah bahasa daerah kemudian ikut mewarnai penggunaan bahasa Indonesia, di antaranya ya partikel-partikel itu tadi. Celakanya peleburan bahasa daerah ini ke dalam bahasa Indonesia juga mengacaukan susunan kalimat, merusak tatanan MD, Subjek Objek sehingga terkadang logat Sul-Sel terdengar sangat kacau. Dengarkan kalimat ini: “malam pi baru saya bawa bukumu nah..?”, yang dalam bahasa Indonesia yang benar kira-kira seperti ini ” bukumu aku bawa nanti malam saja ya ?”. kacau kan..?,hehehe..
Penggunaan bahasa Indonesia logat Sul-Sel ini juga terkesan sangat menghemat penggunaan kata,walaupun ya itu tadi,merusak tatanan bahasa yang benar. Sebagai contoh lagi: “kau mo yang bawaki” atau sama dengan kalimat ” nanti biar kamu aja yang bawa”..cukup hemat bukan ?,belum lagi bila diucapkan terkadang ada discount lagi menjadi ” ko mo yang bawaki “..terkesan males banget ya..?,hehehe..
Itu baru segelintir contoh-contoh dari uniknya bahasa Indonesianya orang Sul-Sel, sangat beragam dan kadang-kadang bagi orang luar Sulawesi jadi terdengar lucu. Tapi ya itulah keistimewaan Indonesia yang punya banyak keanekaragaman yang memperkaya khazanah budaya kita. Jadi,bila anda berkunjung ke Makassar jangan salah sangka bila ada orang yang berkata kepada anda “makan mi”,jangan sampai anda mengira ditawari makan mie..hehehe..
Makassar bisa tonji *
*: Makassar juga bisa, diambil dari judul lagu band lokal Art2Tonic, istilah ini cukup populer digunakan untuk membangkitkan fanatisme kedaerahan anak muda Makassar yang belakangan mulai sering sok ngomong pakai logat Jakarte.